Untuk Kemajuan Masyarakat Sumsel
  Kamis, 09 09 2010   HOME | INDEKS | CARI BERITA

  :: UTAMA

  :: KOTA

  :: SPIRIT SUMSEL

  :: HUKUM

  :: NASIONAL

  :: EKONOMI

  :: SHOWBIZ

  :: OLAHRAGA

  :: PENDIDIKAN

  :: OPINI

  :: PEMILUKADA

  :: MINGGUAN

  :: GESIT

 
T A J U K - P A G I
 
Sistem Hukum
Konflik antara Komisi Pemberantasan Komisi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dinilai hanya merupakan imbas dari buruknya sistem hukum yang ada di Indonesia. Persoalan hukum yang seharusnya menjadi sorotan utama adalah semakin merajalelanya mafia peradilan. Akan menjadi percuma jika konflik KPK dengan Polri selesai, namun mafia peradilan masih terus berkembang. Pasti supremasi hukum tidak akan terwujud. Dari pengalaman dan penglihatan kita
C E L O T E H
 
+ DPR minta nama-nama dalam rekaman diusut
- Buktike secara hukum bae!!!i>

+ Kalangan DPR tolak usul kenaikan gaji Menteri
- Kalo gaji DPR itu naik pulo, makmano!!!
 
 
 
 

Rabu, 11 November 2009
PNS Juga Ikut Ujian Paket C
Palembang, BP

Ujian program pendidikan dengan ijazah setara tingkat SMA digelar sebagian peserta bahkan ada yang berstatus PNS.

Suasana tenang dan relatif kondusif mengiringi 428 peserta didik Pusat Kegiatan Belajar Masyrakat (PKBM) se-Palembang, yang sedang berkonsentrasi menjawab soal yang didapat pada ujian Paket C, di SMAN 1 Palembang, Selasa (10/11).

Kabid Pendidikan non Formal Disdikpora Palembang melalui ketua pelaksana ujian Paket C, Basni, mengatakan, ujian untuk mendapatkan ijazah Paket C atau setara dengan SMA, dilaksanakan pada 10-13 November.

“Materi yang diujikan meliputi tujuh mata pelajaran, yaitu PPKN, Bahasa Inggris, Sosiologi, Geografi, Bahasa Indonesia, Ekonomi, dan Matematika. Untuk hari pertama (kemarin-red), materi yang diujikan meliputi mata pelajaran PPKN dan Bahasa Inggris,” ujarnya.

Dia mengatakan, peserta ujian Paket C merupakan peserta didik di PKBM pada tiap kecamatan. Paket C sendiri merupakan program pendidikan dengan ijazah setara tingkat SMA.

“Materi pelajaran yang didapat juga sama dengan SMA. Bedanya terdapat pada waktu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) yaitu 3 x seminggu, dengan jadwal disesuaikan dengan hasil pemufakatan PKBM dan peserta didik,” ujar Basni.

Peserta ujian Paket C tahun 2009 didominasi oleh kelompok usia di bawah 40 tahun. Seperti pelaksanaan tahun sebelumnya, sejumlah PNS yang mengejar penyetaraan golongan, juga ikut pada ujian kali ini.

Adam (50), PNS Dinas Perhubungan (Dishub) Palembang, mengaku, ujian yang diikuti kemarin, merupakan yang kedua kali. Pada keikutsertaannya pada ujian Paket C tahun sebelumnya, dia dinyatakan belum berhasil.

“Tujuan mengikuti ujian, untuk mendapatkan ijazah paket C yang merupakan syarat untuk penyetaraan jabatan bagi PNS. Soal PPKN yang diujikan, gampang-gampang susah, sebagian ada yang ingat,” ujarnya.

Bahasa Inggris merupakan mata pelajaran yang diakuinya paling sulit untuk diikuti. Menurutnya, lidah lokalnya belum terbiasa untuk mengucapkan kata demi kata bahasa asing tersebut, apalagi untuk mengingatnya.

Meski demikian, untuk menghadapi ujian kali ini, dirinya mengaku, telah belajar optimal. Tidak hanya di PKBM Ilir Barat II tempatnya menimba ilmu, tetapi juga melalui anak-anaknya yang masih SMA.

“Anak saya ada 8 orang, ada yang sedang kuliah, ada juga yang masih kelas 1 SMA. Untuk materi yang tidak diketahui, sering ditanyakan kepada anak saya,” ujarnya.

Sedangkan Fuad (48), guru TPA di kawasan 7 Ulu, mengaku, mengikuti Paket C untuk mendapatkan ijazah yang merupakan syarat masuk perguruan tinggi. Mantan santri pondok pesantren ini, mengaku, pendidikannya terpaksa putus saat menjelang ujian akhir di Madrasah Aliyah.

“Saya tidak enak dengan staf pengajar di TPA yang saya pimpin, mereka rata-rata sarjana. Saya ikut Paket C, bukan untuk mengejar karir, tetapi semata-mata untuk mencari ilmu. Ada pepatah ‘Tuntulah ilmu sampai ke liang kubur’ artinya belajar itu tidak mengenal batasan usia,” ujar dia.

Sementara itu, alsan berbeda diutarakan Rizko Akbar Romadhon, pegawai bengkel motor di Lr Kebon, Cinde. Dirinya yang diperkirakan berusia 20-an ini, harus mengulangi lagi pendidikannya, disebabkan ijazah yang dimiliki terbakar.

“Dulu tinggal di Jakarta, ijazah ikut hangus saat rumah kami kebakaran. Ikut PKBM lebih murah dibandingkan harus mengurus ijazah pengganti di Jakarta,” ujarnya. /mir

BACK | HOME